Janger Kolok Pukau Ratusan Pasang Mata di Taman Bung Karno Rangkaian HUT Kota Singaraja ke 421

  • Apr 09, 2025
  • I Gede Tunjung

 

Janger Kolok merupakan kekhasan seni budaya Buleleng yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan. Tarian pergaulan yang dilakoni oleh penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara ini diiringi bahasa isyarat dari Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan yang sering dipentaskan pada event-event besar. 

Terbaru pada malam ketiga apresiasi seni rangkaian HUT Kota Singaraja ke 421 ratusan pasang mata terpukau atas aksi tarian Janger Kolok yang dipentaskan oleh 10 penari diiringi alat tabuh kendangan dan cengceng ini  dengan membawakan cerita tentang Arjuna Wiwaha di panggung terbuka RTH Taman Bung Karno, Sukasada, Senin,(7/4).

Ditemui sebelum tampil, koordinator sekeha Janger Kolok I Kadek Sriparjana menyampaikan terimakasih atas kesempatan tampil yang diberikan oleh bapak Bupati Buleleng dan Pemerintah Desa Bengkala."Kesempatan ini merupakan hal yang luar biasa agar eksistensi Janger Kolok terus terjaga,"ujarnya.

Agar terus terjaga keberadaan Janger Kolok ini I Kadek Sriparjana menyampaikan pihaknya secara kontinu terus mengadakan latihan setiap seminggu sekali untuk melatih kekompakan sebagai persiapan jika sewaktu-waktu dipanggil untuk tampil oleh wisatawan."Kami punya KEM tersendiri sebagai tempat latihan yaitu diwantilan kawasan ekonomi masyarakat bantuan dari PT. Pertamina,"sebutnya.


Pihaknya memaklumi bahwasannya populasi masyarakat yang tuna wicara dan tuna rungu tahun ke tahun berkurang di Desa Bengkala, namun pihaknya terus berupaya melestarikan seni tradisi ini."Dulu populasinya masyarakat kolok sekitar 45 orang dan sekarang cuma 35 orang dan untuk menjadi anggota tidak bisa kita paksakan, harus yang bener-bener mau ikut selain itu tergantung mood bersangkutan. Jumlah anggota dulu 16 orang sekarang 12 orang dan regenerasi tetap kita lakukan,"ungkapnya.

Untuk diketahui Janger Kolok yang dirintis oleh almarhum Bapak Wayan Nedeng pada tahun 1969 merupakan gabungan tari Janger dan seni beladiri serta mengadopsi cerita Kekawin Arjuna Wiwaha yang dibawakan oleh masyarakat penyandang disabilitas bisu tuli atau kolok dengan tujuan memberdayakan masyarakat kolok untuk berkesenian sehingga setara dengan masyarakat normal.


Dipengujung I Kadek Sriparjana berharap Janger Kolok agar terus dilibatkan dalam event-event skala kabupaten, provinsi bahkan nasional, sehingga seni tradisi khas Buleleng ini tetap eksis dan lestari.